Berdasarkan hasil survei dari Riverbed, sekitar 98% perusahaan menyatakan bahwa performa layanan aplikasi yang stabil sangat krusial bagi keuntungan bisnis mereka. Selain itu, sekitar 89% perusahaan juga setuju bahwa performa sistem yang buruk dapat menghambat produktivitas kerja secara signifikan. Bahkan, penelitian dari Gartner menyebutkan bahwa kualitas data dan sistem yang buruk berpotensi memicu kerugian finansial hingga $9,7 juta per tahun.
Oleh karena itu, data di atas membuktikan betapa pentingnya menjaga performa layanan digital agar tetap prima. Terutama, ketika platform Anda sedang menghadapi lonjakan transaksi yang sangat tinggi dari pengguna.
Menjaga Kenyamanan Pelanggan Lewat Stabilitas Sistem
Sebuah perusahaan bisa saja menghabiskan anggaran yang besar untuk strategi pemasaran instan demi mendongkrak bisnisnya. Namun, strategi tersebut tidak akan berdampak besar jika aplikasi utama mereka sering mengalami gangguan. Untuk membangun basis pelanggan yang loyal, perusahaan wajib menyediakan infrastruktur aplikasi web yang andal dan kokoh terlebih dahulu.
Sebagai contoh, kita bisa melihat mengapa mayoritas orang lebih memilih Google sebagai mesin pencari utama mereka. Jawabannya adalah karena layanan yang diberikan oleh Google selalu cepat, responsif, dan stabil kapan pun diakses. Kenyamanan inilah yang membuat pengguna tetap setia.
Bagi Anda yang mengelola server, tantangan terbesar akan muncul saat traffic atau jumlah pengguna harian melonjak tajam. Jika transaksi terlalu padat, pelambatan sistem atau crash menjadi hal yang sulit dihindari. Oleh sebab itu, Anda memerlukan fitur kontrol beban kerja (service load control) untuk mengontrol server aplikasi agar tetap berjalan normal.
Mengenal Fitur PLC sebagai Real-Time Trouble Control
Di dalam perangkat lunak JENNIFER APM, terdapat sebuah fitur kendali beban yang sangat efektif bernama PLC atau Peak Load Control. Fitur ini berfungsi khusus untuk mengontrol server aplikasi secara otomatis ketika volume transaksi telah melebihi batas ambang (threshold) yang ditentukan.
Fitur PLC bekerja sebagai pelindung untuk mencegah terjadinya sistem down saat terjadi lonjakan traffic yang tidak terduga. Keunggulan ini akan sangat terasa pada platform digital yang rawan macet, seperti:
- Aplikasi ujian atau kursus pendidikan daring.
- Layanan perbankan (mobile banking).
- Situs web reservasi tiket transportasi.
- Aplikasi belanja online (e-commerce) saat mengadakan pesta diskon besar-besaran.
Bagaimana cara kerja PLC membatasi kelebihan pengguna?
Secara teknis, PLC akan terus memeriksa performa layanan melalui batas threshold yang telah diatur sebelumnya. Selanjutnya, jika jumlah pengguna yang masuk sudah terlalu ekstrem, PLC akan membatasi kelebihan muatan tersebut secara cerdas. Langkah ini diambil demi memastikan pengguna yang sudah berada di dalam aplikasi tetap bisa bertransaksi dengan lancar tanpa terganggu oleh sistem yang lemot.
Secara ringkas, dengan mengaktifkan fitur PLC, Anda dapat mengidentifikasi dan mencapai hal-hal berikut:
-
Mengontrol server aplikasi secara otomatis berdasarkan batas beban yang aman.
-
Menjaga stabilitas layanan digital agar terhindar dari risiko server crash.
-
Membantu infrastruktur sistem dalam mendukung lebih banyak pengguna secara bergantian.
Aplikasi modern dengan arsitektur yang kompleks pasti memiliki potensi masalah yang beragam. Sumber kendalanya bisa berasal dari eror pada kode program, keterbatasan perangkat keras, gangguan pada database back-end, hingga masalah jaringan. Oleh karena itu, penerapan fitur PLC pada JENNIFER APM menjadi langkah strategis yang sangat penting untuk mengamankan dan mengontrol server aplikasi bisnis Anda agar tetap stabil setiap saat.
Apakah Anda ingin menguji keandalan fitur PLC ini pada sistem bisnis Anda? Khusus untuk pengguna baru, dapatkan kesempatan emas menikmati free trial gratis selama 30 hari dari JENNIFER APM dengan [Klik Di Sini].